Punya DRPT Skin? Ini Alasan Skincare Biasa Nggak Efektif
- Ditulis oleh Writer
Kulit yang nggak perih dan mudah kemerahan sering dianggap sehat. Tapi pada DRPT skin, itu justru bisa jadi tanda kulit lagi dalam survival mode, seperti yang dijelaskan dalam Baumann Skin Type.
Data global menunjukkan 20,5% pria punya kulit kering atau sangat kering, bahkan meski kelihatannya berminyak.[1] Ironisnya, minyak berlebih justru bikin air lebih cepat menguap,[2] yang jadi lingkaran masalah DRPT skin. Baca sampai tuntas dan kenali karakter kulit ini lebih dalam.
DRPT Skin: Kulit yang Sering Disalahpahami

DRPT atau dehydrated, resistant, pigmented, tight bukan tipe kulit yang seimbang. Tipe ini justru menahan stres terlalu lama. Ini juga jadi alasan kenapa permukaan kulit berminyak tapi kering, di mana minyaknya memang ada, tapi kandungan airnya entah ke mana.
pH kulit pria juga cenderung lebih tinggi 0,3 dari wanita,[3] sehingga barrier lebih mudah terganggu. Kondisi ini memicu TEWL (transepidermal water loss) dan sensasi ketari. Jadi, meski tampak baik-baik saja, sistem di dalamnya sedang chaos, Bro.
Penyebab dan Ciri-Ciri DRPT Skin

Tanpa sadar, kulit pria dipaksa kerja keras setiap hari. Mulai dari harsh facial wash dan shaving hingga seharian di ruang ber-AC dan motoran. Polusi di Jakarta, misalnya, PM2.5-nya sering melampaui ambang aman WHO,[3] sehingga memicu stres oksidatif yang mendorong produksi melanin berlebihan.
Faktor-faktor ini jadi alasan kenapa hiperpigmentasi pria tiba-tiba muncul, meski kulit lo nggak pernah merah apalagi terasa perih. Selain itu, paparan UV juga mempercepat aktivasi sel pigmen sebagai mekanisme perlindungan, tapi itu tanda kerusakan sedang terjadi.[4]
Masalahnya, kulit tipe resisten jarang langsung rewel. Kulit akan menahan sampai tanda halus muncul, seperti:
- Masih memproduksi minyak alami, tapi muncul sensasi kulit yang kaku.
- Warna kulit nggak rata.
- Bekas jerawat enggan memudar.
Data juga menunjukkan kalau PIH (post-inflammatory hyperpigmentation) bisa muncul pada 31-44% pria yang berjerawat.[5] Risikonya lebih tinggi pada kulit yang tone-nya lebih gelap. Kondisi ini sering bikin sunscreen justru bikin kusam.
Kenapa DRPT Berbeda dari DSPT & DRPW?

DRPT dan DSPT memang sama-sama bermasalah, tapi reaksinya beda. DSPT yang sensitif lebih reaktif, misalnya kulit jadi mudah gatal, perih, dan merah karena barrier-nya lemah, sehingga recovery time juga lebih lama. Sebaliknya, kulit resisten DRPT pulih lebih cepat dan tampak “aman”.
Makanya, orang mungkin keliru pilih skincare untuk tipe resisten yang justru terlalu agresif.
Sementara itu, DRPW terasa kering karena struktur kulit yang sudah mulai gampang berkerut. Ini beda dengan kondisi DRPT yang ketariknya karena dehidrasi di lapisan kulit atas. Salah rawat bisa bikin dehidrasi jadi stres pigmen, yang pada akhirnya bikin kulit makin nggak rata.
Kulit resisten memang lebih toleran, tapi nggak kebal. Saat lo pakai eksfolian keras atau cleanser kuat terus-menerus, barrier cepat menutup sambil mengirim sinyal stres tinggi. Kondisi ini memicu produksi melanin yang meningkat, sehingga rasa ketarik makin terasa.
Pilih yang Tepat, Hindari yang Merusak

Untuk pemilik kulit DRPT, penting untuk cerdas memilih skincare untuk kulit resisten. Pastikan produk yang lo pakai punya formula:
- Amino-based cleanser yang efektif bersihkan tanpa mempertipis barrier.
- Soothing humectants yang mengikat air biar kulit nggak makin dehidrasi.
- Niosome buat bantu bahan aktif lebih stabil plus menembus kulit lebih efisien berkat struktur bilayer-nya.[6] Dengan begitu, kerja serum lebih terarah.
Lo juga harus jauh-jauh dari alkohol tinggi dan scrub kasar serta harsh surfactant. Kombinasi ini bikin kulit semakin cepat kehilangan air dan memicu stres pigmen.
Pria sering keliru dengan merasa kulitnya tahan banting dan skip sunscreen. Kekeliruan berlanjut dengan terlalu fokus mengurangi minyak tanpa memperhatikan hidrasi yang perlu dipulihkan. Padahal, ini adalah akar masalah DRPT.
Rutinitas Skincare Buat DRPT Skin dari Kahf

Mengingat DRPT itu sebenarnya dehidrasi tapi terlihat kuat, urutan skincare-nya juga harus menenangkan sekaligus works. Lo bisa:
- Mulai dari Kahf Bright Revitalizing AminoGel untuk bersih tanpa bikin barrier makin tipis.
- Lanjut dengan Kahf Bright Intensifying & Pigment Corrector Niosome Serum supaya noda dan kusam tertangani tanpa menyebabkan iritasi.
- Reset cepat dengan Kahf Face Spray All in One Power Toning kapan pun lo perlukan. Toner ini bantu memulihkah kulit pria dehidrasi dan melembabkannya, bisa diaplikasikan kapan saja.
- Akhiri dengan Kahf Triple Protection Sunscreen Moisturizer SPF 30 PA+++, non-negotiable.
Selain memblokir sekitar 97% UVB, pakar sepakat kalau sunscreen adalah langkah paling efektif mencegah penuaan dini karena mayoritas tanda aging dipicu UV.[7] Plus, produk Kahf ini relevan sebagai sunscreen untuk kulit berminyak yang butuh proteksi tanpa terasa berat.
Keep in mind kalau kulit lo nggak lemah, Bro. Dengan strategi yang tepat, lo bisa ubah kondisi ini jadi awal perbaikan yang nyata dan konsisten. Pilih sistem perawatan pria yang paham cara kerja dan kebutuhan DRPT skin. Mulai langkah lo hari ini bersama Kahf.





