Masjid Al-Kahf NTT: Masjid Ramah Lingkungan di Manggarai Barat
- Ditulis oleh Jason Suhendro
Pagi di Kampung Lempe, Desa Poco Dedeng, Manggarai Barat, diawali dengan cahaya yang masuk lewat jendela-jendela lebar Masjid Al-Kahf. Ruang salatnya dirancang agar cukup terang tanpa lampu dan tetap sejuk lewat sirkulasi udara alami, sementara air hujan ditampung untuk kebutuhan sehari-hari.
Masjid Al-Kahf NTT diresmikan pada 7 Juni 2023 di Kampung Lempe, Desa Poco Dedeng, Kecamatan Lembor, Manggarai Barat, melalui campaign #PerjalananBerKahf, kolaborasi Kahf bersama Yayasan Masjid Nusantara. Masjid yang semula bernama Al-Munawarah ini dibangun ulang dan diberi nama baru, Al-Kahf.

Berawal dari Kebutuhan Air Bersih
Kampung Lempe berada di dataran tinggi dengan akses air bersih yang terbatas. Sebelum masjid ini hadir, warga harus berjalan sekitar 60 sampai 90 menit ke sungai untuk mengambil air. Kondisi ini menjadi salah satu pertimbangan dalam desain Masjid Al-Kahf, yang dilengkapi sistem penampungan dan penyaringan air hujan untuk mendukung kebutuhan warga.
Konsep Smart Masjid untuk Efisiensi Sumber Daya
Masjid Al-Kahf dibangun dengan konsep Smart Masjid dan sustainability. Setiap elemennya menjawab kebutuhan warga dengan infrastruktur yang mencakup:
- Kaca dan roster: Membantu memasukkan cahaya matahari ke ruang salat pada siang hari.
- Atap tinggi: Mendukung sirkulasi udara di dalam masjid.
- Atap miring dan saluran penampungan: Mengarahkan air hujan ke tandon untuk disaring sebelum digunakan.
- Pembatas salat dan dudukan Al-Qur'an: Terbuat dari bahan daur ulang, berdasarkan laporan Masjid Nusantara.

Teknologi ramah lingkungan yang terpasang di masjid ini ditujukan agar masjid tetap berfungsi dengan baik, tanpa membebankan biaya perawatan bagi pengurus dan warga. Bagi Kahf, progres & inovasi harus berbasis ilmu yang menjadi solusi nyata dan mengutamakan fungsi.
Masjid Al-Kahf dan Kerukunan Antarumat Beragama
Salah satu hal penting dalam peresmian Masjid Al-Kahf adalah kehadiran sosok-sosok penting. Tak hanya warga Muslim setempat, namun juga warga Kristiani yang sudah lama hidup berdampingan di Poco Dedeng.
Fransiskus Xaverius, perwakilan umat Kristiani setempat, menyampaikan kegembiraan atas berdirinya masjid di desa mereka. Ia menegaskan bahwa toleransi sudah lama menjadi bagian dari kehidupan warga Poco Dedeng. Ungkapan tersebut menunjukan bahwa persaudaraan dapat dibangun dengan landasan niat baik yang yang manfaatnya bisa dirasakan bersama.
Rumah ibadah bisa menjadi tempat untuk saling mengenal dan saling menghargai, bukan batas yang memisahkan. Di Poco Dedeng, hal itu sudah lama dijalani warganya. Masjid ini menjadi satu tempat lagi untuk merawat persaudaraan itu.

Peresmian yang Dirayakan Bersama
Peresmian masjid diawali dengan upacara adat Manggarai, termasuk pengalungan selendang khas sebagai penyambutan. Acara kemudian dilanjutkan dengan pemotongan tumpeng, penyerahan kunci secara simbolis, penandatanganan prasasti, dan doa bersama. Tradisi setempat dan ibadah hadir di satu hari yang sama.
Kebermanfaatan Masjid Al-Kahf NTT bagi Masyarakat
Perjalanan sebuah masjid tidak selesai saat bangunannya rampung. Ia berlanjut lewat saf yang terisi, anak-anak yang datang, dan aktivitas pertemuan warga dari hari ke hari.
Sebuah aksi nyata yang kecil tapi bermakna, dengan kebermanfaatan yang terus bertambah dari hari ke hari.
#LangkahBerdampak #JalanYangKuPilih
Kahf bersama Yayasan Masjid Nusantara | Kampung Lempe, Desa Poco Dedeng, Manggarai Barat, NTT | 2023








